Melindungi yang Lemah
Sebagaimana Rasulullah Muhammad ﷺ, dan para sahabat, mereka berasal juga dari negeri yang berbeda-beda dan status sosial yang tidak sama. Ada yang dari Persia, Romawi, Habasyah, dan orang-orang Arab. Ada yang dari keluarga terpandang seperti dari kabilah Quraisy, ada pula yang dari budak sahaya.
“Hai manusia, kamulah yang butuh (fuqoro) kepada Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS: Fathir: 15)
Nabi ﷺ bahkan memerintahkan untuk mencurahkan perhatian ekstra terhadap anak-anak, wanita dan orang tua renta, atau orang yang belum tahu (jahil).
Islam melarang kita mengardik anak yatim dan memerintahkan memperhatikan orang fakir-miskin, melindungi wanita, orang tua dan anak-anak. Terutama anak yang lemah mentalnya.
Sebagai contoh, Nabi tidak pernah mencaci-maki orang Badui yang kencing di masjid, juga tidak memukulnya. Sebab orang tersebut belum mengetahui hukum.
Karena keikhlasan dan doa orang yang lemah, maka pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala datang.
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki kecuali dengan sebab orang yang lemah di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari)
Orang lemah dari kaum muslimin adalah mayoritas penghuni Surga. Nabi ﷺ bersabda:
“Aku berdiri di pintu Surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin.” (Muttafaqun ‘alaih)
Abu ad-Darda’a, beliau berkata:
Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: “Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”.
Kebanyakan orang-orang lemah sering dikabulkan doanya, sebab mereka orang-orang yang lebih ikhlas, mereka memiliki hati yang kosong dari ketergantungan terhadap dunia. Hati mereka juga bersih dari apa-apa yang memutuskan hubungan mereka dengan Allah. Sehingga, hidup mereka semata untuk beribadah kepada Allah.
Kunjungi juga :
Komentar
Posting Komentar